Dulu, koding sering dianggap sebagai hal yang hanya dipelajari oleh mahasiswa IT atau orang yang ingin menjadi programmer. Padahal, sekarang koding mulai dekat dengan kehidupan sehari-hari. Aplikasi belajar, game, media sosial, belanja online, sampai kecerdasan artifisial atau AI, semuanya bekerja karena ada teknologi dan koding di baliknya.
Di Indonesia, pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial mulai diperkenalkan sebagai bagian dari kurikulum nasional. Berdasarkan informasi Kemendikdasmen, mata pelajaran ini hadir sebagai mata pelajaran pilihan dan mulai diterapkan bertahap pada tahun ajaran 2025/2026, dimulai dari kelas 5, kelas 6, dan kelas 7.
Artinya, siswa tidak harus menunggu kuliah untuk mengenal teknologi. Sejak sekolah, siswa sudah bisa mulai belajar cara berpikir yang runtut, logis, dan kreatif.
Koding Bukan Cuma Menulis Kode
Banyak orang mengira koding hanya soal mengetik kode yang rumit di komputer. Padahal, inti dari koding adalah belajar menyusun langkah untuk menyelesaikan masalah.
Dalam dunia pendidikan, kemampuan ini sering disebut computational thinking atau berpikir komputasional. Sederhananya, ini adalah cara berpikir untuk memecah masalah besar menjadi bagian kecil, mencari pola, menyusun langkah, lalu mencoba solusi.
Grover dan Pea (2013) menjelaskan bahwa berpikir komputasional penting untuk pendidikan K-12 atau jenjang sekolah karena membantu siswa membangun kemampuan berpikir analitis. Jadi, koding bukan hanya berguna untuk anak yang ingin menjadi programmer, tetapi juga untuk siswa yang ingin lebih terlatih dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Belajar Koding Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Siswa tidak harus langsung punya laptop mahal atau menulis kode yang sulit. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa pembelajaran koding dan AI bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu tanpa perangkat digital, dengan perangkat digital, dan berbasis internet.
Contohnya, siswa bisa mulai belajar dari permainan instruksi, menyusun urutan langkah, membuat algoritma sederhana, atau memakai aplikasi visual seperti blok-blok kode. Setelah itu, siswa bisa berkembang ke proyek digital seperti animasi, game sederhana, website, atau aplikasi kecil.
Penelitian Lye dan Koh (2014) juga menunjukkan bahwa pemrograman dapat membantu mengembangkan berpikir komputasional. Dalam tinjauan mereka terhadap 27 studi, ditemukan bahwa kegiatan membuat program bisa melatih siswa memahami konsep seperti urutan langkah, pengulangan, percabangan, dan pemecahan masalah.
Mengapa Ini Penting untuk Siswa Indonesia?
Koding masuk sekolah adalah tanda bahwa kemampuan digital makin penting. Di masa depan, banyak pekerjaan akan berhubungan dengan teknologi, data, aplikasi, dan AI. Siswa yang terbiasa belajar koding akan lebih siap menghadapi perubahan itu.
Belajar koding dapat membantu siswa:
- Memahami cara kerja teknologi yang dipakai setiap hari.
- Berpikir lebih runtut dan logis.
- Berani mencoba dan memperbaiki kesalahan.
- Membuat karya digital sendiri.
- Lebih siap mengenal AI dengan bijak.
Hsu, Chang, dan Hung (2018) menemukan bahwa pembelajaran berpikir komputasional banyak dilakukan melalui strategi seperti project-based learning, problem-based learning, cooperative learning, dan game-based learning. Artinya, belajar koding akan lebih efektif jika siswa tidak hanya membaca teori, tetapi juga membuat proyek, berdiskusi, mencoba, dan memperbaiki hasilnya.
Koding Juga Mengajarkan Siswa untuk Tidak Takut Salah
Dalam koding, salah itu biasa. Program yang tidak berjalan bukan berarti gagal, tetapi tanda bahwa ada bagian yang perlu diperbaiki. Proses ini disebut debugging.
Dari sini, siswa belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar. Mereka dilatih untuk membaca masalah, mencari penyebab, mencoba solusi baru, lalu menguji lagi. Sikap seperti ini sangat berguna, bukan hanya di pelajaran teknologi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Tikva dan Tambouris (2021) menyusun tinjauan dari 101 studi tentang berpikir komputasional melalui pemrograman di pendidikan K-12. Mereka menunjukkan bahwa pembelajaran koding perlu memperhatikan beberapa hal, seperti strategi belajar, alat yang digunakan, cara menilai kemampuan siswa, dan kesiapan sekolah atau guru. Ini menunjukkan bahwa koding memang penting, tetapi perlu diajarkan dengan cara yang sesuai dengan usia dan kebutuhan siswa.
Koding dan AI Perlu Dipelajari dengan Bijak
Selain koding, siswa juga mulai dikenalkan dengan AI. Ini penting karena AI sudah banyak digunakan dalam mesin pencari, rekomendasi video, chatbot, aplikasi edit foto, dan alat bantu belajar.
Namun, AI tidak boleh digunakan sembarangan. Kemendikdasmen menekankan bahwa siswa perlu memahami etika penggunaan AI, seperti menyadari bahwa AI tidak selalu benar, menjaga data pribadi, dan menggunakan AI untuk tujuan yang baik.
Dengan begitu, siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab.
Saatnya Siswa Mulai Berani Belajar
Koding masuk sekolah bukan berarti semua siswa harus langsung menjadi programmer. Yang paling penting adalah siswa mulai terbiasa berpikir terstruktur, kreatif, dan percaya diri menghadapi teknologi.
Mulainya bisa dari hal kecil: membuat animasi, game sederhana, website pribadi, atau proyek yang sesuai dengan minat. Yang penting bukan langsung jago, tetapi berani mencoba dan terus belajar.
Yuk, mulai belajar koding dari dasar dengan cara yang mudah dipahami dan ikuti kelas CodingMu.
Referensi
Grover, S., & Pea, R. (2013). Computational thinking in K-12: A review of the state of the field. Educational Researcher, 42(1), 38-43. https://doi.org/10.3102/0013189X12463051
Hsu, T.-C., Chang, S.-C., & Hung, Y.-T. (2018). How to learn and how to teach computational thinking: Suggestions based on a review of the literature. Computers & Education, 126, 296-310. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2018.07.004
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (2025, July 21). Ringkasan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/berita/detail/ringkasan-permendikdasmen-nomor-13-tahun-2025-tentang-perubahan-atas-peraturan-menteri-pendidikan-kebudayaan-riset-dan-teknologi-nomor-12-tahun-2024-tentang-kurikulum-pada-pendidikan-anak-usia-dini-jenjang-pendidikan-dasar-dan-jenjang-pendidikan-menengah
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. (n.d.). Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, fondasi pendidikan untuk masa depan. https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/koding-ka
Lye, S. Y., & Koh, J. H. L. (2014). Review on teaching and learning of computational thinking through programming: What is next for K-12? Computers in Human Behavior, 41, 51-61. https://doi.org/10.1016/j.chb.2014.09.012
Tikva, C., & Tambouris, E. (2021). Mapping computational thinking through programming in K-12 education: A conceptual model based on a systematic literature review. Computers & Education, 162, Article 104083. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2020.104083