Banyak dari kita yang mengira kalau Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan itu teknologi yang benar-benar baru lahir di abad ke-21. Wajar banget sih, soalnya kita baru heboh pas ada ChatGPT atau AI generator gambar beberapa tahun belakangan ini. Tapi tahu enggak? Akar dari teknologi canggih ini sebenarnya sudah tertanam sejak 70 tahun yang lalu, lho! Perjalanannya pun penuh lika-liku yang seru, mulai dari ide yang ambisius, masa-masa "mati suri", sampai akhirnya jadi teknologi keren yang mengubah dunia kayak sekarang.
Kisah seru ini resmi dimulai pada tahun 1956 di sebuah diskusi musim panas di Dartmouth College. Di sanalah seorang ilmuwan bernama John McCarthy pertama kali memperkenalkan istilah Artificial Intelligence. Waktu itu, para peneliti lagi semangat-semangatnya dan pede banget kalau robot yang bisa berpikir kayak manusia bakal tercipta cuma dalam hitungan dekade. Jauh sebelum momen itu pun, tepatnya tahun 1950, bapak ilmu komputer Alan Turing sudah melempar pertanyaan legendaris: "Bisakah mesin berpikir?". Beliau bahkan bikin Turing Test buat menguji apakah komputer bisa meniru cara ngomong manusia sampai-sampai kita enggak sadar kalau lagi chatting-an sama mesin.
Sayangnya, ekspektasi indah itu harus tabrakan sama realitas yang pahit. Masuk ke tahun 1974 sampai 1980, para ilmuwan baru sadar kalau komputer zaman purba itu lemot banget dan memorinya mini, jadi enggak kuat buat memproses data yang rumit. Akibatnya, banyak kritikus bermunculan, lalu pemerintah Inggris dan Amerika Serikat langsung menyetop dana riset mereka. Karena sepi peminat dan ditinggal investor, masa-masa suram yang bikin AI sempat dikira proyek gagal ini akhirnya disebut sebagai era AI Winter alias Musim Dingin AI.
Setelah lama mati suri dan dianggap cuma fiksi ilmiah yang muluk-muluk, dunia kecerdasan buatan akhirnya bangkit lagi dan bikin geger dunia di tahun 1997. Momen epik ini terjadi waktu superkomputer milik IBM bernama Deep Blue sukses mengalahkan Garry Kasparov, juara dunia catur yang legendaris banget. Peristiwa ini jadi bukti nyata pertama kalau komputer ternyata bisa ngalahin logika dan strategi manusia dalam permainan yang super mikir.
Nah, pas masuk tahun 2012, perkembangan AI langsung tancap gas pol! Gara-gara internet makin luas, data jadi melimpah ruah dan komputer pun makin canggih. Di era inilah para ilmuwan mulai mempopulerkan metode Deep Learning, yaitu sistem komputer yang cara kerjanya meniru jaringan saraf di otak kita. Nah, ada fakta unik nih: bahan bakar utama AI biar bisa pintar itu sebenarnya adalah data kita sendiri! Berkat tumpukan data dari internet, media sosial, dan digitalisasi massal (Big Data), AI mulai jago banget mengenali wajah dan suara. Tanpa kuota data raksasa dari aktivitas digital kita sehari-hari, AI modern enggak bakal pernah punya cukup "bahan pelajaran" buat jadi secerdas sekarang.
Sekarang, dari tahun 2022 sampai hari ini, kita sudah resmi masuk ke babak baru yang namanya era Generative AI. Di fase ini, AI enggak cuma duduk manis menganalisis data, tapi sudah bisa menciptakan sesuatu yang baru dari nol. Cuma butuh waktu hitungan detik, AI sekarang sudah bisa nulis esai, bikin lukisan estetik, mengaransemen musik, sampai coding program komputer. Jadi, kalau dipikir-pikir, kecanggihan AI yang kita nikmati hari ini bukanlah cerita sukses semalam, melainkan hasil perjuangan dan jatuh bangun para ilmuwan lintas generasi selama puluhan tahun. Keren banget, ya?
next kita bahas ilmuwan ilmuwan keren yang terlibat dalam sejarah AI oke ?
Referensi:
- J. Moor, “The Dartmouth College Artificial Intelligence Conference: The Next Fifty Years,” AI Magazine, vol. 27, no. 4, pp. 87–91, 2006.
- A. M. Turing, “Computing Machinery and Intelligence,” Mind, vol. 59, no. 236, pp. 433–460, 1950.
- J. Hendler, “AI Winter and its Lessons,” IEEE Intelligent Systems, vol. 23, no. 2, pp. 2–4, 2008.
- M. Campbell, A. J. Hoane, and F. H. Hsu, “Deep Blue,” Artificial Intelligence, vol. 134, no. 1-2, pp. 57–83, 2002.
- Y. LeCun, Y. Bengio, and G. Hinton, “Deep Learning,” Nature, vol. 521, no. 7553, pp. 436–444, 2015.